Depresi Pasca Melahirkan

Banyak diantara para ibu yang malu bila terkena gejala maupun terkena depresi saat kehamilan maupun setelah kehamilan (depresi pasca melahirkan / postpartum depression). Masih banyak beredar mitos di kalangan masyarakat bahwa penderita menjadi depresi karena melanggar tabu di dalam tradisi atau tabu sosial, atau larangan agama.

Konsep tradisional ini sangat menyulitkan penderita maupun keluarga mereka, sehingga seringkali ibu yang menderita menjadi bulan-bulanan kambing hitam atas semua masalah yang terjadi di dalam keluarga akibat dari depresi yang dideritanya selama kehamilan atau setelah kehamilan.

Sayangnya, kurangnya informasi di kalangan masyarakat kita, menjadikan orang-orang yang berpendidikan sekalipun masih mencemooh mereka yang terkena depresi. Padahal depresi selama kehamilan dan setelah kehamilan atau depresi pasca melahirkan dapat menimpa perempuan manapun tanpa terkecuali.

Mari sama-sama kita simak penjelasan yang dimuat oleh National Institute of Health USA mengenai depresi pada ibu hamil dan setelah melahirkan. Semoga informasi ini setidaknya dapat menambah wawasan kita akan perlunya pengetahuan mengenai kehamilan sekitarnya. Juga untuk menimbulkan kesadaran para perempuan akan pentingnya menciptakan grup suport bagi para perempuan dengan segala serba-serbi permasalahannya.

Informasi ini diperoleh dari beberapa web-site, di antaranya: http://www.womenshealth.gov/faq/postpartum.htm

Apa yang dimaksud dengan depresi?

Depresi dapat digambarkan sebagai perasaan sedih, galau, tak bahagia, susah, atau kehilangan semangat hidup. Kebanyakan dari kita merasakan hal seperti ini pada suatu periode singkat di dalam suatu waktu.

Namun depresi klinis yang sebenarnya merupakan suatu kelainan/mood disorder di mana yang  bersangkutan merasakan kesedihan, kehilangan, kemarahan, atau frustasi dalam jangka waktu yang panjang dan mengganggu kehdupan sehari-hari. Depresi dapat bersifat ringan, sedang atau berat. Pengobatannya tergantung dari tingkatan depresi itu sendiri.

Seberapa lazim depresi terjadi selama dan sesudah kehamilan?

Depresi yang terjadi selama dan dalam jangka waktu satu tahun sesudah melahirkan dikategorikan sebagai depresi perinatal. Jumlah perempuan yang menderita secara tepatnya tidak diketahui. Para ilmuwan percaya bahwa depresi adalah salah satu dari komplikasi yang paling sering terjadi selama dan sesudah kehamilan.

Seringkali depresi tidak diketahui dan tidak diobati karena beberapa gejala dan perubahan yang dialami mempunyai kesamaan dengan gejala yang dialami oleh kehamilan normal pada saat yangbersamaan,sehingga dianggap sebagai suatu kelaziman. Gejala kelelahan, sulit tidur, reaksi emosional yang kuat, perubahan berat badan, selama dan sesudah kehamilan adalah gejala yang sama ditemui saat kehamilan dan sesudah kehamilan yang merupakan juga gejala depresi.

Apa penyebab depresi?

Banyak alasan yang dapat dikemukakan sebagai penyebab perempuan menderita depresi. Perubahan hormon atau kejadian di dalam kehidupan yang menimbulkan stress seperti saat kematian di dalam keluarga, menyebabkan perubahan kimiawi di dalam otak yang mengarah menuju depresi. Depresi juga merupakan sebuah penyakit yang berlangsung di dalam sebuah keluarga. Kadangkala tidak jelas penyebab dari depresi itu sendiri.

Selama kehamilan

Ada hal-hal yangdapat memicu terjadinya depresi selama kehamilan:

– Pernah menderita depresi atau menderita kekerasan
– Ada di dalam keluarga penderita penyakit mental
– Kurangnya support dan dukungan keluarga dan teman
– Kekhawatiran akan bayi yang dikandung
– Masalah kehamilan atau kelahiran terdahulu
– Masalah perkawinan atau keuangan
– Hamil usia muda

Setelah kehamilan

Depresi setelah kehamilan atau pasca melahirkan disebut dengan postpartum depression atau peripartum depression. Setelah melahirkan perubahan hormonal yang terjadi di dalam tubuh perempuan dapat memicu terjadinya depresi. Selama kehamilan, terjadi lonjakan jumlah estrogen dan progesteron. Dalam jangka waktu 24 jam setelah melahirkan, jumlah estrogen dan progesteron kembali normal seperti sebelum saat kehamilan.

Para ilmuwan berpendapat bahwa perubahan drastis pada tingkat kandungan hormon yang menyebabkan terjadinya depresi. Bayangkan saja bila perubahan kandungan hormon yang sedikit saja dapat menimbulkan PSM pada orang-orang tertentu, apalagi perubahan kandungan hormone secara drastis.

Biasanya, tingkat dari hormon tiroid juga turun setelah melahirkan. Tiroid adalah kelenjar kecil di leher yang membantu mengatur metabolisme tubuh ( bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan energi dari makanan). Tingkat tiroid yang rendah dapat menyebabkan gejala depresi, termasuk mood deperesi, kehilangan semangat hidup, gusar, lemas, sukar berkonsentrasi, sulit tidur, dan bertambahnya berat tubuh.

Tes darah yang sederhana dapat memberitahukan apakah rendahnya tingkat tiroid yang menyebabkan depresi pada seorang perempuan. Bila ini penyebabnya, dokter dapat memberikan resep untuk mengembalikan tingkat tiroid ke tingkat yang seharusnya.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi timbulnya depresi, antara lain :

– Kelelahan setelah melahirkan, berubahnya pola tidur, dan kurangnya istirahat seringkali menyebabkan ibu yang baru melahirkan belum kembali ke kondisi normal meskipun setelah berminggu-minggu dari saat melahirkan.
– Kegalauan dan kebingungan dengan kelahiran bayi yang baru, perasaan tidak PD dengan kemampuan diri untuk dapat merawat bayi yang baru sementara masih merasa bertanggung jawab dengan semua pekerjaan yang ada.
– Perasaan stress dari perubahan dalam pekerjaan maupun kerutinan dalam rumah tangga. Sementara banyak perempuan yang merasa berkewajiban untuk menjadi ‘super woman’ yang tidak realistis dan sulit dicapai, malahan akan menambah stress yang ada.
– Perasaan kehilangan akan identitas diri, akan kemampuan diri, akan figur tubuh sebelum kehamilan, akan perasaan dapat mengontrol diri sebelum kehamilan, akan perasaan menjadi kurang menarik.
– Kurangnya waktu untuk diri sendiri, tidak dapatnya mengontrol waktu sebagaimana yang dapat dilakukan sebelum dan selama kehamilan, harus tinggal di dalam rumah dalam jangka waktu lama, juga kekurangan waktu pribadi dengan orang yang dicintai selain dari bayi yang baru lahir.

Gejala Depresi:

– Perasaan sedih, tak berdaya, dan galau
– Sering menangis
– Tak ada energi dan motivasi hidup
– Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit
– Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit
– Sulit untuk fokus, mengingat atau mengambil keputusan
– Rasa tak berharga dan rasa bersalah
– Kehilangan semangat atau kenyamanan dalam beraktifitas
– Menjauhkan diri dari teman atau keluarga
– Sakit kepala, nyeri di dada, jantung berdebar-debar dan nafas cepat.

Setelah melahirkan, gejala lain dari depresi dapat termasuk ketakutan untuk menyakiti bayi dan dirinya sendiri (rasa ingin bunuh diri) dan tidak ada ketertarikan pada bayi.

Apa perbedaan antara baby blues, postpartum depression dan postpartum psikosis?

Baby blues dapat terjadi begitu selesai proses kelahiran dan biasanya akan hilang setelah beberapa hari sampai seminggu setelah melahirkan. Seorang ibu yang baru melahirkan dapat terkena perubahan mood secara tiba-tiba/tak terduga, merasa sedih, menangis tak henti tanpa sebab, kehilangan nafsu makan, sulit tidur, gusar, tak tenang, gundah, dan kesepian.

Gejala yang tak berat tidak memerlukan perawatan medik,namun ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membuat diri kita lebih merasa nyaman. Tidurlah saat bayi tidur. Mintalah pertolongan dari suami, anggota keluarga dan teman. Ikutlah grup support dari ibu-ibu yang baru memiliki bayi untuk saling bertukar cerita, pengalaman dan saling berbagi.

Postpartum depression dapat terjadi kapanpun di dalam jangka waktu satu tahun setelah melahirkan. Perempuan dapat sering merasakan kesedihan, kehilangan energi, susah berkonsentrasi, gundah gulana, dan perasaan bersalah dan tak berharga. Beda postpartum depression dengan baby blues ialah bahwa yang disebut pertama ini dapat mengacaukan keberadaan perempuan dan dapat membuat dirinya tak dapat berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari dalam jangka waktu yang lama. Postpartum depression memerlukan perawatan dokter melalaui konsultasi, grup support dan pengobatan.

Postpartum psikosis sangat jarang terjadi, 1 atau 2 dalam setiap 1000 kelahiran dan biasanya dimulai pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan. Perempuan yang menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk terkena postpartum psikosis.

Gejalanya antara lain: delusi, halusinasi, gangguan saat tidur, dan obsesi mengenai bayi. Penderita dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat.

Apa yang dapat kita lakukan bila kita mempunyai gejala depresi selama atau setelah kehamilan ?

Banyak perempuan tidak mau bercerita bahwa mereka menderita gejala ini, karena mereka merasa malu, takut, dan merasa bersalah karena merasa depresi di saat mereka seharusnya merasa bahagia. Mereka takut dikatakan tidak layak untuk menjadi ibu. Depresi perinatal dapat terjadi pada setiap perempuan. Tidak berarti bila menderita depresi berarti kita ‘buruk’ atau tak pantas menjadi ibu. Penderita dan bayinya tak layak untuk menderita. Ada bantuan untuk itu.

Ada banyak grup suport yang merupakan grup terabit bicara yang dapat membantu mereka yang menderita untukmerasa lebih nyaman, lebih baik, lebih merasa dihargai, lebih berarti sebagai seorang perempuan dan seorang ibu.

Dari beberapa riset terbatas, pengobatan medis dapat membantu dalam kasus-kasus tertentu. Sebaiknya dibicarakan dengan dokter mengenai cara pengobatan yang dapat dilakukan tanpa mengancam kesehatan bayi terutama bila bayi menyusui.

Beberapa tip :
1. Banyak istirahat sebisanya. Tidurlah selama bayi tidur.
2. Hentikan membebani diri sendiri untukmelakukan semuanya sendiri. Kerjakan apa yang dapat dilakukan dan berhenti saat merasa lelah. Biarkan pekerjaan yang tersisa dilakukan kemudian.
3. Mintalah bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan pemberian makan pada waktu malam hari. Mintalah pada suami untuk mengangkat bayi untuk disusui saat malam hari sehingga ibu dapat menyusui di tempat tidur tanpa harus banyak bergerak. Bila memungkinkan, carilah tenaga bantuan dari teman, keluarga atau tenaga professional untuk membantu selama diperlukan.
4. Bicarakan dengan suami, keluarga, teman, mengenai perasaan yang dimiliki.
5. Jangan sendirian dalam jangkan waktu lama. Berdandan dan keluarlah dari rumah. Pergilah ke suatu tempat atau berjalan kakilah keluar untuk merubah suasana hati.
6. Bicaralah dengan Ibunda agar dapat saling bertukar pengalaman.
7. Bicaralah dengan ibu-ibu lain agar dapat sharing pengalaman.
8. Ikuti grup suport untuk perempuan dengan depresi.
9. Jangan membuat perubahan hidup yang sangat drastis selama kehamilan,(tambahan: seperti pindah pekerjaan, pindah rumah, ganti pasangan hidup, kembali ke sekolah, memulai usaha baru, merenovasi atau membangun rumah dll) Bila perubahan drastik ini tidak dapat dielakkan, buatlah persiapan yang matang dan bantuan ataupun suport bagi persiapan kelahiran bayi.

Bagaimana perawatan depresi?

Ada dua macam perawatan depresi:

1. Terapi bicara:
adalah sesi bicara dengan terapis, psikolog atau pekerja sosial untuk mengubah apa yang difikir, rasa dan lakukan oleh penderita akibat menderita depresi.
2. Obat medis:
obat anti depresi yang diresepkan oleh dokter. Sebelum mengkonsumsi obat anti depresi, sebaiknya didiskusikan benar obat mana yang tepat dan aman bagi bayi untuk dikonsumsi oleh ibu hamil atau ibu menyusui.

Apa efeknya bila depresi tidak dirawat?

Depresi tidak hanya mengganggu penderita namun juga seluruh keluarga. Depresi saat kehamilan dapat menyebabkan kelahiran premature dan kelahiran bayi dengan berat badan kurang. Depresi dapat mempengaruhi ibu hamil sehingga, mereka tak ada nafsu makan, kurang asupan makanan sehingga janin tidak berkembang sebagai semestinya.

Tak jarang depresi menyebabkan penderita susah tidur, terlewat waktu check-up kehamilan ke dokter, tidak mengikuti anjuran kesehatan selama kehamilan, diet yang buruk, dan dapat mengkonsumsi benda yang berbahaya seperti, merokok, mengkonsumsi alkohol, dan mengkonsumsi obat terlarang.

Depresi pasca melahirkan mempengaruhi kemampuan seseorang untuk merawat bayinya. Ia dapat kurang tenaga, tak dapat berkonsentrasi, gusar terus menerus, dan tak dapat memenuhi kebutuhan bayi akan cinta dan perhatian yang tak putus. Akibatnya penderita akan merasa bersalah, dan kehilangan rasa percaya diri akan kemampuannya sebagai ibu, dimana perasaan ini dapat memperburuk kondisi depresinya.

Para ilmuwan percaya bahwa depresi ini dapat mempengaruhi kemampuan bayi dalam perkembangan bahasanya, dalam kedekatan emosianalnya dengan orang lain, dalam masalah bersikap, tingkat aktifitas yang lemah, masalah tidur dan distress.

Sangat bijaksana bila suami atau anggota keluarga yang lain mengambil alih tanggung jawab menjaga anak-anak lainnya, atau pekerjaan rumah tangga selama ibu menderita depresi, sehingga beban ibu menjadi berkurang.

Buka pembicaraan dengan suami dan keluarga untuk dapat saling membantu, menjaga, merawat dan saling meringankan beban di dalam keluarga. Jangan sungkan untuk konsultasi ke dokter bila terkena gejala depresi selama kehamilan atau setelah melahirkan.

Sumber :

National Women’s Health Information Center (NWHIC) at
1-800-994-9662 or the following organizations.
National Institute of Mental Health, NIH, HHS
Phone: (301) 496-9576
Internet Address: http://www.nimh.nih.gov
National Mental Health Information Center, SAMHSA, HHS
Phone: (800) 789-2647
Internet Address:
http://www.mentalhealth.org
American Psychological Association
Phone: (800) 374-2721
Internet Address:
http://www.apa.org
National Mental Health Association
Phone: (800) 969-NMHA
Internet Address:
http://www.nmha.org
Postpartum Education for Parents
Phone: (805) 564-3888
Internet Address:
http://www.sbpep.org
Postpartum Support International
Phone: (805) 967-7636
Internet Address:
http://www.postpartum.net

sumber
http://fadlan.multiply.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: