Pokok Keimanan

Dalam Islam, pokok keimanan yang pertama adalah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, apapun nama Tuhan itu, namun al-Qur’an menggunakan kata Allah untuk sebutan Tuhan YME pencipta, pengatur dan penguasa alam.

Dalam Islam, kepercayaan terhadap Tuhan YME ini betul-betul harus bisa difahami secara akal, dalam arti bahwa akal kita bisa menerima bahwa Tuhan penguasa alam ini hanyalah Tuhan Yang Esa, tiada sekutu (tandingan) bagi-Nya.

Makanya dalam mempelajari ilmu tauhid (kalam atau keimanan), setiap Muslim selalu dihantarkan ke arah pemahaman itu, dengan dalil aqli (akal) yang paling sederhana dan bisa diterima oleh akal sehat adalah :
kalau alam ini diatur oleh dua penguasa (tuhan dengan huruf ”t” kecil), niscaya antara dua penguasa tersebut akan saling bersaing, sehingga yang terjadi pada alam ini justru kekacauan yang tiada akhir, karena kalau ada dua penguasa pasti ada dua aturan yang saling bertentangan. Kalau alam ini berjalan dengan teraturnya (misal matahari selalu terbit dari timur dan tenggelam di barat, setahun ada 365 hari, benda di atas selalu jatuh ke bawah karena adanya gravitasi bumi, dan keteraturan-keteraturan alam lainnya) itu karena penguasa alam ini hanya satu, yaitu Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya. Sementara itu, dalil naqli (ayat al-Qur’an) yang mendukung pernyataan tersebut dapat ditemukan dalam QS 21:22 :

Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu (langit dan bumi) telah rusak binasa. Maha suci Allah yang memiliki Arasy daripada apa mereka sifatkan”.

(Catatan : dalam Islam berlaku kaidah ”tiada agama bagi yang tidak berakal”, artinya : orang-orang yang tidak berakal seperti orang gila, atau yang akalnya belum sempurna seperti anak yang masih kecil, tidak ada kewajiban beragama bagi mereka.
Jadi kalau anak kecil meninggal dunia maka ia dijamin langsung masuk sorga. Sedang orang gila tidak ada kewajiban agama baginya, seperti menjalankan sholat, puasa dan perintah-perintah agama lainnya. Tentang kehidupan akhiratnya bergantung pada amalannya sebelum gila kalau orang itu menjadi gila setelah dewasa).

Meskipun Allah sebagai penguasa tunggal jagad raya ini, namun Allah tidak berkomunikasi secara langsung dengan penduduk bumi (terutama manusia). Menurut keyakinan Islam, selama di dunia ini, manusia tidak akan sanggup untuk menatap langsung wajah Allah, baru nanti di sorga manusia akan mendapatkan kenikmatan terbesar, yaitu kesempatan menatap dan mendapatkan salam penghormatan dari Allah. Untuk itu, Allah memiliki penghubung yaitu para malaikat yang salah satu tugasnya adalah menyampaikan kabar/wahyu kepada penduduk bumi.

Sehingga pokok keimanan yang kedua bagi umat Islam adalah : iman atau percaya kepada para malaikat. Kepada siapa wahyu itu disampaikan ? Ternyata Allah tidak menyuruh malaikat untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada seluruh penduduk bumi. Wahyu itu hanya disampaikan kepada orang-orang terpilih, yaitu para Nabi dan Rasul. Sehingga pokok keimanan umat Islam yang ketiga adalah : Iman kepada para Utusan (Nabi dan Rasul).

(Catatan : Islam membedakan para Utusan antara Nabi dan Rasul.)
Nabi adalah :
orang yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk dirinya sendiri tanpa berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain.

Sedang Rasul adalah
orang yang menerima wahyu dari Allah SWT dan berkewajiban menyampaikannya kepada ummatnya masing-masing dimana Rasul itu diutus.

Seorang Nabi belum tentu seorang rasul, sedang seorang rasul sudah tentu Nabi. Al-Qur’an tidak menyebutkan berapa jumlah Nabi yang pernah diutus di muka bumi, namun ada 25 nama Rasul yang disebutkan dalam al-Qur’an, dan inilah yang wajib diimani oleh setiap Muslim).

Setiap Utusan mengkabarkan agama yang sama, yaitu ”agama Tauhid” (agama yang mengesakan Tuhan atau hanya menyembah Tuhan Yang Esa) kepada ummatnya. Dalam al-Qur’an kata Islam bukan hanya merujuk pada ”agama Islam” seperti yang umumnya kita fahami saat ini, tetapi juga berarti ”agama Tauhid” Jadi kalau dalam al-Qur’an ada ayat (yang mengabadikan perkataan para Rasul utusan Allah) yang berbunyi ”wa ana awwalul muslimin” itu maksudnya ”beliau adalah orang yang pertama-tama (dibandingkan kaumnya saat itu) yang berpegang pada agama tauhid atau mengimani Tuhan Yang Esa”.

Juga kalau al-Qur’an menginformasikan bahwa para utusan Allah (Rasul) beragama Islam, itu artinya mereka membawa/menyampaikan ajaran ”agama Tauhid” kepada kaumnya. Kalau Islam mengklaim sebagai pewaris Agama Ibrahim, karena umat Islam mempertahankan keyakinan yang dulu jauh sebelum diutusnya Muhammad SAW, ajaran Tauhid itu pernah disampaikan oleh Ibrahim kepada kaum yang dipimpinnya.

Dalam pengertian ini, Islam (agama tauhid) bukanlah agama baru, tetapi agama yang sebelumnya pernah disampaikan kepada Rasul-Rasul yang pernah diutus di muka bumi jauh sebelum diutusnya Muhammad SAW. Jadi kalau Adam, Musa, Dawud, Isa dan Rasul-Rasul lainnya itu beragama Islam, itu bukan hal yang mengada-ada bagi umat Islam, dalam arti mereka semua adalah ”penganut agama Tauhid yang hanya percaya pada Tuhan Yang Esa”, sama seperti yang diajarkan oleh Muhammad SAW dan dipegang teguh umat Islam saat ini.

Dalam bentuk apa wahyu dari Allah SWT disampaikan kepada para utusan ? Al-Qur’an menginformasikan bahwa wahyu itu turun dan diterima para Utusan dalam bentuk shuhuf (lembaran-lembaran perintah/petunjuk Allah) maupun dalam bentuk Kitab Suci.

Sehingga pokok keimanan bagi setiap Muslim yang keempat adalah : beriman kepada Kitab-Kitab Allah. Dalam arti percaya bahwa Allah telah dan pernah menurunkan berbagai wahyu yang berisi perintah maupun petunjuk-petunjuk kehidupan untuk berbagai ummat manusia yang mendiami berbagai bagian belahan bumi pada berbagai kurun waktu.

Jadi meskipun para Utusan itu membawa ajaran agama Tauhid yang sama, namun diantara mereka bisa saja membawa syariat berupa ajaran ritual keagamaan yang berbeda-beda, meski ada beberapa jenis ritual yang bisa saja sama. Puasa misalnya, dalam al-Qur’an (QS 2:183) juga diwajibkan kepada ummat-ummat sebelum ummat Muhammad, hanya saja ummat-ummat terdahulu tidak konsisten dengan apa yang diperintahkan oleh Allah tadi. Dalam Kristen ada perintah puasa, namun diganti dengan ”puasa tidak makan daging”.

Ketika masih di bangku SMA tahun 1977, saya punya seorang guru kimia yang beragama Kristen. Saat sedang mengajar di bulan Ramadhan, guru kimia saya tadi memuji konsistensi orang-orang Islam yang tetap menjalankan ibadan puasa, sambil mentertawakan diri dan siswa lain yang tidak puasa (beragama kristen) dengan mengatakan dalam Kristen puasanya adalah puasa tidak makan daging, dan tidak usah puasapun orang Indonesia memang jarang makan daging.

Namun setelah selesai pelajaran kimia, ada salah seorang teman yang mengkonfirmasi tentang masalah puasanya orang Kristen tadi, si teman kristen tadi menjelaskan, bahwa puasa tidak makan daging adalah puasanya orang Eropa, sementara puasanya orang Indonesia menurut ajaran Kristen adalah puasa tidak makan garam. Terlihat disini, ketidakkonsistenan itu bukan hanya terhadap perintah puasanya saja, tetapi juga jenis puasa yang dijalani oleh umat Kristen.

Tentang babi, Islam dan Kristen sama-sama mengkharamkan, namun umat Islam konsisten dengan kekharaman tersebut, sementara dalam Kristen ayat yang megkharamkan babi diutak-atik sedemikian rupa sehingga yang kharam adalah babi hutan. Soal ibadah haji juga sudah diperintahkan sejak jaman Ibrahim.

Namun seiring dengan perjalanan waktu yang sangat panjang dan dalam kurun waktu itu tidak ada utusan Allah untuk Bangsa Arab, maka ritual haji tersebut mengalami penyimpangan sehingga sebelum Islam datang ibadah haji dilakukan dengan cara bertelanjang sambil menyembah berhala-berhala yang memenuhi sekitar Ka’bah.

Begitu Islam datang, ritual haji diluruskan kembali sebagaimana semula seperti yang dahulunya diperintahkan kepada Ibrahim dan umatnya. Salah satunya adalah dengan membersihan patung-patung berhala yang ada di sekeliling Ka’bah.

Ritual haji kembali dimurnikan sehingga sesuai dengan ajaran ”agama Tauhid” untuk menyembah Tuhan Yang Esa.

1 Response so far »

  1. 1

    ryo said,

    yg pnting imanna kuat….


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: